Wajar kalau orang asing tidak tau bahwa pulau Bali adalah bagian dari Indonesia, lihat saja Pos Card ini. mestinya nama negara adalah yang tertulis pada pos card tersebut dan bukannya nama sebuah provinsi di suatu negara. saya juga sudah melihat pos card yang bergambar lain padahal berada di provinsi berbeda tapi tetap mengusung nama indonesia, dan itu tidak berlaku dengan keindahan dan objek wisata yang ada di bali, Bali seperti mengusung sebuah negara sendiri, menurut saya mungkin ini lah keistimewaan yang dimilikinya sehingga Bali tidak menyamakan pos card nya dengan pos card lain dengan mencantumkan nama negara Indonesia di bawahnya, bukannya Bali tidak nasionalis tetapi mungkin memang sudah jalannya begitu, bahwa di hati warga asinga sudah menganggap bali berbeda dari tempat lain di dunia ini apa lagi jika dibandingkan dengan Indonesia.
I Wayan Brindawan
Senin, 09 Juli 2012
Selasa, 12 Juni 2012
lumbung padi Banjar Gerenceng
Ada hal menarik ketika saya mencari informasi di salah satu artikel blog saya sebelumnya yang juga manampilkan gambar di atas, setelah saya cari di internet, saya menemukan foto yang sama bertuliskan tahun 1920. wahh saya kira ini lumbung padi rumah salah satu warga, ternyata ini lumbung padi yang dimiliki oleh banjar adat Gerenceng. perbedaan antara lumbung padi yang sekarang dengan yang dulu hanyalah terletak pada arah atau menghadap kemana. lihatlah gang yang ada disebelah lumbung! ternyata sudah ada dari dulu ya? hehe.. saluran air yang dulunya kecil sekarang berubah menjadi terotoar tempat pejalan kaki, sedangkan di depannya berubah yang dulunya hanyalah jalan tanah sekarang menjadi jalan ber-aspal. kalau dari segi lumbungnya jelas terlihat lebih ramping dan diletakkan dibagian atas, saya kurang tau maksudnya apa? mungkin untuk pemanfaatkan lahan semaksimal mungkin! tetapi saya kurang tau bagian bawahnya digunakan untuk apa, mungkin disewakan dan hasil sewanya digunakan untuk keperluan banjar tersebut.
Label:
Pengalaman
Lokasi:
Denpasar, Indonesia
Fasilitas Banjar
![]() |
| Salah satu banjar orang-orang kaya di Denpasar, dilengkapi dengan LED TV |
Kali ini kita bahas singkat tentang keterkejutan saya mengenai sebuah fasilitas banjar di salah satu banjar di kota Denpasar. waktu itu saya dan keluarga sedang berencana untuk makan siang, kami memilh makan nasi be celeng di kawasan Gerenceng. kami pun memutuskan parkir di depan banjar Gerenceng. saat saya turun dari mobil ada sesuwatu yang membuat saya terkesan dari banjar itu, selain arsitekturnya yang teradisional bali-moderen ada pemandangan yang tidak biasa yaitu banjar tersebut dilengkapi dengan TV LED. fasilitas TV sebenarnya ada disemua banjar di Bali kuhususnya yang ada di perkotaan, tetapi yang sampai memasang LED TV ini baru banjar ini saja yang saya lihat, kalau sekedar TV LCD juga sudah mulai banyak di banjar-banjar desa orang-orang kaya tetapi yang sampai LED baru ini saja. sekedar informasi banjar orang kaya atau penduduk aslinya adalah kalangan menengah keatas setau saya hanya ada di daerah kota yaitu daerah pasar badung, karena zaman dulunya ini memang kawasan puri raja dan pusat pemerintahan rumah para kuturunan raja tersebar merata di daerah ini. jadi sangat wajar kalau arsitektur banjar-banjar disini sangat mewah dan tak seperti banjar kebanyakan. daerah lainnya adalah Sanur yang memiliki pantai yang indah, zaman dulu warga sanur pun sudah terkenal kaya-kaya, apa lagi ditambah sekarang tempat itu adalah kawasana andalan pariwisata pantai yang dimiliki kota Denpasar. banjar-banjar disana cukup mewah lah dari segi arsitekturnya dan pernah saya lihat dilengkapi TV LCD dan bukan LED ya! rumah leluhur warga aslinya pun bagus-bagus, walaupun perumahannya padat tapi pasti tersusun rapi tidak kumuh lahh. nah kata orang tua saya sihh banjar yang dilengkapi TV LED ini adalah banjar raja Gerenceng. lihat pula tidak ada pengaman yang terpasang di TV itu, banjar ini pun tidak dilengkapi CCTV. seakan tidak takut TV ini di curi orang, walaupun dicuri mereka kan bisa beli lagi hehe.. tapi kawasan ini aman lahh selain banjar ini terletak dipinggir jalan besar dan ramai, siapa sihh yang berani nyuri TV di banjar yang raja adalah salah satu anggotanya??
Minggu, 10 Juni 2012
Lumbung Padi Bali
Lumbung padi biasanya digunakan untuk menyimpan hasil panen padi yang selanjutnya di jual dan sisanya dikonsumsi sendiri, rumah leluhur biasanya dilengkapi dengan lumbung padi ini dan biasanya terletak didepan rumah dan juga digunakan sebagai sarana persembahyangan pada hari-hari tertentu, biasanya keluarga yang memiliki lumbung padi ini adalah keluarga yang memiliki sawah yang banyak dan pastinya mereka adalah kalangan orang-orang kaya pada saat itu, tetapi bagaimana dengan lumbung padi di zaman moderen ini?? kuhususanya di kota Denpasar yang sawahnya sudah semakin berkurang. waktu itu saya sedang melintasi sebuah ruas jalan didaerah Denpasar barat, dan ada sebuah rumah yang memiliki lumbung padi yang besar menurut saya. tetapi lumbung padi tersebut bukanlah gambar yang di atas, ini lumbung padi lain yang mengingatkan saya akan hal itu, nah lanjut lagi waktu itu saya berkata wahh besar sekali lumbung padinya, bagus lagi! kenapa lumbung padi kita di kampung tidak dibuat sebesar dan sebagus ini?? lalu tiba-tiba wak saya, atau kakak dari ibu saya menjawab karena kebetulan beliau waktu itu satu mobil dengan kami dia berkata itu lumbung padi orang puri, jadi pantaslah lumbung padinya besar dan bagus! itu tanda mereka adalah orang-orang kaya karena jaman dulu mereka memiliki banyak sawah apa lagi mereka keluarga kerajaan. nahh untuk yang belum tau puri itu apa! puri adalah tempat tinggal raja di bali dan kebetulan wak saya itu menikah dengan orang Denpasar tepatnya di daerag gerenceng, suaminya adalah parekannya raja, jaman dulu sihh orang-orang yang bantu-bantu di puri, hal itu masih berlangsung sampai sekarang di semua keturunannya. tidak heran jika rumah teradisional yang dilengkapi dengan lumbung padi ini adalah orang-orang kaya, saya heran mengapa di zaman sekarang kekayaan mereka tidak habis-habis juga ya? coba saja kalian lihat rumah-rumah leluhur yang ada lumbung padinya pasti memiliki fasilitas yang wahh seperti brand dan jumlah mobil serta usaha yang mereka miliki, hal ini juga berlaku untuk kalangan rakyat biasa. asalkan memiliki lumbung padi pasti orang kaya dan ternyata itu berlaku juga di zaman moderen ini.
Jumat, 25 Mei 2012
reincarnation and the belief
Melihat foto ini kira-kira apa yang muncul di benak kalian? apa lagi jika kalian yang membaca artikel ini adalah orang Bali yang beragama Hindu pula, ketika saya melihat foto ini lagi-lagi itu terjadi secara tidak sengaja di sebuah akun Facebook yang berhubungan tentang bali, saya lupa nama akunnya maklum, karena saya tidak hanya menyukai ( Like ) satu akun saja yang berhubungan tentang bali. dalam foto ini terlihat dua turis yang sedang melakukan persembahyangan di sebuah pura di bali, awalnya saya kagum melihat foto ini, belum lagi komentar-komentar yang ikut mengiringi tautan foto ini. isinya rata-rata bersifat positif, karena itulah saya merasa semakin bangga dengan agama yang saya anut. karena merasa foto ini langka dan unik, saya putuskan untuk menyimpannya di leptop. sudah lama semenjak saya menyimpan foto itu, timbul sebuah pemikiran bahwa saya sendiri sebagai orang hindu bali belum seperti mereka, dalam artian saya yang sudah dilahirkan sejak awal menjadi umat Hindu saja masih malas sembahyang, suka males kalau diajak orang tua untuk sembahyang ke pura, belum lagi jika ada odalan di kampung! bawaannya males aja, melihat foto ini saya tertegun untuk semakin rajin dan bersemangat sembahyang. mereka saja rajin sembahyang dan percaya ajaran Hindu, kenapa saya tidak??
Setau saya tidak mudah seorang laki-laki non Hindu untuk masuk menjadi umat Hindu, karena mereka tidak memiliki "soroh" kalau tidak salah, intinya mereka harus memiliki leluhur orang Hindu bali, tidak sembarangan asal dan masuk Hindu begitu saja, sedangkan untuk perempuan menikah dengan laki-laki yang beragama Hindu, dalam artian si perempuan mengikuti dan bergabung dengan leluhur atau keluarga besar suaminya. walaupun dia tidak memiliki soroh, perempuan bisa mengikuti soroh suaminya, sedangkan laki-laki non Hindu tidak bisa melakukan hal itu. itulah salah satu faktor jumlah orang yang menganut agama hindu sulit bertambah. tetapi menurut saya ada banyak jalan menuju tuhan dan yang terpenting adalah niat kita kan?? asalkan yakin bahwa melalui jalan ini kita bisa menuju tuhan tanpa latar belakang leluhur pun kita tetap bisa menyembah Ida Sang Hiyang Widhi Wasa.
Setau saya tidak mudah seorang laki-laki non Hindu untuk masuk menjadi umat Hindu, karena mereka tidak memiliki "soroh" kalau tidak salah, intinya mereka harus memiliki leluhur orang Hindu bali, tidak sembarangan asal dan masuk Hindu begitu saja, sedangkan untuk perempuan menikah dengan laki-laki yang beragama Hindu, dalam artian si perempuan mengikuti dan bergabung dengan leluhur atau keluarga besar suaminya. walaupun dia tidak memiliki soroh, perempuan bisa mengikuti soroh suaminya, sedangkan laki-laki non Hindu tidak bisa melakukan hal itu. itulah salah satu faktor jumlah orang yang menganut agama hindu sulit bertambah. tetapi menurut saya ada banyak jalan menuju tuhan dan yang terpenting adalah niat kita kan?? asalkan yakin bahwa melalui jalan ini kita bisa menuju tuhan tanpa latar belakang leluhur pun kita tetap bisa menyembah Ida Sang Hiyang Widhi Wasa.
Satu lagi ada sebuah cerita yang teringat di pikiran saya ketika melihat foto ini. seorang teman saya bercerita kepada saya bahwa seniornya di tempat dia bekerja mengatakan bahwa kalau kita sedang sembahyang ke sebuah pura atau tempat lain yang baru pertama kali kita datangi, tapi kita sudah merasa tidak asing dengan tempat tersebut, itu tandanya kita pernah ke tempat tersebut pada kehidupan sebelumnya. apa kalian pernah merasakan hal itu?? jujur kalau aku juga pernah merasakannya. kenapa saat di pura perasaan ini sering timbul? mungkin karena pura di bali sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan biasanya sedikit mengalami perubahan dari segi arsitektur maupun lokasi alam sekitarnya. jadi mungkin saja hal ini yang masih dirasakan oleh roh kita.
Nahh ada juga cerita tetapi saya lupa siapa yang menceritakannya kepada saya bahwa ada seorang turis yang sedang berlibur untuk pertama kalinya ke Bali dan didampingi oleh seorang pemandu wisata, mereka mengunjungi sebuah desa di Bali dan melihat kehidupan warga di sana, tiba-tiba turis itu mengatakan bahwa dia merasa tidak asing dengan tempat dan kegiatan warga yang ada di desa itu, dia berkata mungkin dikehidupan sebelumnya aku adalah orang Bali dan ditakdirkan untuk kembali lagi ke sini, bahkan dia menangis sambil mengatakan hal itu kepada pemandu wisatanya tersebut.
Apa kah itu mungkin terjadi? karena menurut kepercayaan Hindu Bali reinkarnasi itu hanya terjadi di lingkaran keluarga saja, berbeda dengan hindu india bahwa reinkarnasi itu tidak sebatas di lingkaran keluarga saja. jadi sekarang apa mungkin turis asing itu pada kehidupan sebelumnya adalah orang Bali? atau hanya perasaannya saja? entah lahh...
Rabu, 23 Mei 2012
di Perbatasan Gianyar [ of Gianyar border ]
Gambar di atas saya dapatkan secara tidak sengaja, saya lupa kapan jelasnya tpi waktu itu saya sedang pulang kampung, maklum saya tinggal di Denpasar dan kampung saya ada di kabupaten kelungkung desa Gunaksa. saat saya sedang menuju kelungkung di pagi hari tepatnya di jalan bay pass Ida Bagus Mantra perbatasan perbatasan kabupaten gianyar dan kelungkung, kami sekeluarga melihat adanya alat berat dan beberapa pekerja yang sedang sibuk mengatur kendaraan yang lewat agar berhati-hati. singkat cerita sepulangnya kami akan ke Denpasar di sore hari tiba-tiba ada antrean kemacetan yang menghalangi laju mobil kami sekeluarga, ternyata saat itu adalah detik-detik tugu perbatasan kabupaten gianyar ini akan dipindahkan, perlahan tapi pasti alat berat itu berhasil mengangkatnya, senang rasanya saya bisa menyaksikan kejadian langka seperti ini. hampir saja saya lupa untuk mengabadikannya dengan kamera handphone saya. cukup banyak gambar yang saya ambil, tapi hanya satu ini saja yang hasilnya bagus, itu karena arah pengambilan saya melawan matahari, jadi hasilnya agak gelap untung saja setelah mobil kami mergerak membelakangi matahari saya segera melakukan jepretan terakhir dan berhasil mendapatkan foto tanpa latar belakang yang gelap.
Senin, 21 Mei 2012
[ before and after ] Sebuah patung di Denpasar
![]() |
| coba bandingkan! 70 tahun bisa merubah segalanya |
Sekarang kita akan membahas salah satu patung yang ada di jalan Diponegoro kota Denpasar. patung ini terletak di sebuah pertigaan jalan, pusat kota. awal mula saya ingin membahas patung ini adalah ketika saya sedang Browsing di internet secara tidak sengaja saya sampai ke sebuah akun Facebook yang memang menampilkan foto-foto kehidupan masyarakat Bali berkisar pada tahun 1800 hingga 1900an. banyak foto yang sebenarnya menarik tpi ada salah satu foto yang saya tau lokasinya sekarang ada di mana, memang tidak banyak tetapi kebetulan ada satu yang berada di kawasan kota Denpasar tempat saya tinggal.
![]() |
| Letak patung yang berada di pusat kota Denpasar |
![]() | ||
| Pertigaan jalan Diponegoro |
Awalnya saya kira patung ini adalah patung catur muka yang berada di perempatan jalan veteran, tidak jauh juga dari patung ini. tapi setelah saya perhatikan lebih seksama ternyata gambar patung di foto itu bukanlah catur muka yang ada di jalan veteran, tetapi sebuah patung yang ada di pertigaan jalan Dieponegoro. di akun Facebook itu tertulis foto itu dibuat pada tahun 1930, berarti pada saat itu Bali masih dalam masa penjajahan Jepang. tetapi foto ini tidak diambil oleh orang jepang melainkan seseorang yang ber-kewarganegaraan belanda.
Lihatlah latar belakang foto pada tahun 1930 tersebut! terlihat masih banyak pohon kelapa dan rimbunnya pohon beringin, serta sebuah gubuk kecil didalam sebuah tembok penyengker. patung itu dikelilingi tiga patung kecil lainnya, sepintas seperti sebuah sudut jalan dipedesaan. tapi siapa sangka 70 tahun kemudian sudut jalan yang terlihat sederhana dan terkesan desa itu berubah menjadi tempat yang sungguh-sungguh berbeda lihat saja latar belakangnya! tidak ada lagi pohon kelapa dan teduhnya beringin, semua itu digantikan oleh tembok motel dan pertokoan serta jalan yang selalu ramai dilalui kendaraan bahkan di jam-jam tertentu, pertigaan ini menjadi pusat kemacetan. patungnya pun sudah diganti, patung yang lama katanya dipindahkan entah kemana, dan diganti dengan patung yang sama tapi dengan ukuran yang lebih kecil tetapi masih di kelilingi tiga patung keci.
Sekarang coba bayangkan seandainya dipertigaan jalan ini sejak awal tidak didirikan sebuah patung? bayangkan apakah kalian masih bisa ingat bahwa sebenarnya ini adalah sebuah sudut jalan dan pertigaan yang sama sekitar 70 tahun sebelumnya? mungkin jawabannya tidak, ingin rasanya bisa kembali ketempat itu pada tahun 1930 merasakan jalan yang masih bernuansa pedesaan. tidak seperti sekarang ini, mungkin saja mereka tidak menyadari keberadaannya setiap kali melewati jalan ini, karena semuanya sudah berubah dan tidak seindah dulu.
Langganan:
Komentar (Atom)








