Jumat, 25 Mei 2012

reincarnation and the belief


Melihat foto ini kira-kira apa yang muncul di benak kalian? apa lagi jika kalian yang membaca artikel ini adalah orang Bali yang beragama Hindu pula, ketika saya melihat foto ini lagi-lagi itu terjadi secara tidak sengaja di sebuah akun Facebook yang berhubungan tentang bali, saya lupa nama akunnya maklum, karena saya tidak hanya menyukai ( Like ) satu akun saja yang berhubungan tentang bali. dalam foto ini terlihat dua turis yang sedang melakukan persembahyangan di sebuah pura di bali, awalnya saya kagum melihat foto ini, belum lagi komentar-komentar yang ikut mengiringi tautan foto ini. isinya rata-rata bersifat positif, karena itulah saya merasa semakin bangga dengan agama yang saya anut. karena merasa foto ini langka dan unik, saya putuskan untuk menyimpannya di leptop.  sudah lama semenjak saya menyimpan foto itu, timbul sebuah pemikiran bahwa saya sendiri sebagai orang hindu bali belum seperti mereka, dalam artian saya yang sudah dilahirkan sejak awal menjadi umat Hindu saja masih malas sembahyang, suka males kalau diajak orang tua untuk sembahyang ke pura, belum lagi jika ada odalan di kampung! bawaannya males aja, melihat foto ini saya tertegun untuk semakin rajin dan bersemangat sembahyang. mereka saja rajin sembahyang dan percaya ajaran Hindu, kenapa saya tidak??

Setau saya tidak mudah seorang laki-laki non Hindu untuk masuk menjadi umat Hindu, karena mereka tidak memiliki "soroh" kalau tidak salah, intinya mereka harus memiliki leluhur orang Hindu bali, tidak sembarangan asal dan masuk Hindu begitu saja, sedangkan untuk perempuan menikah dengan laki-laki yang beragama Hindu, dalam artian si perempuan mengikuti dan bergabung dengan leluhur atau keluarga besar suaminya.  walaupun dia tidak memiliki soroh, perempuan bisa mengikuti soroh suaminya, sedangkan laki-laki non Hindu tidak bisa melakukan hal itu. itulah salah satu faktor jumlah orang yang menganut agama hindu sulit bertambah. tetapi menurut saya ada banyak jalan menuju tuhan dan yang terpenting adalah niat kita kan?? asalkan yakin bahwa melalui jalan ini kita bisa menuju tuhan tanpa latar belakang leluhur pun kita tetap bisa menyembah Ida Sang Hiyang Widhi Wasa.

Satu lagi ada sebuah cerita yang teringat di pikiran saya ketika melihat foto ini. seorang teman saya bercerita kepada saya bahwa seniornya di tempat dia bekerja mengatakan bahwa kalau kita sedang sembahyang ke sebuah pura atau tempat lain yang baru pertama kali kita datangi, tapi kita sudah merasa tidak asing dengan tempat  tersebut, itu tandanya kita pernah ke tempat tersebut pada kehidupan sebelumnya. apa kalian pernah merasakan hal itu?? jujur kalau aku juga pernah merasakannya. kenapa saat di pura perasaan ini sering timbul? mungkin karena pura di bali sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan biasanya sedikit mengalami perubahan dari segi arsitektur maupun lokasi alam sekitarnya. jadi mungkin saja hal ini yang masih dirasakan oleh roh kita. 

Nahh ada juga cerita tetapi saya lupa siapa yang menceritakannya kepada saya bahwa ada seorang turis yang sedang berlibur untuk pertama kalinya ke Bali dan didampingi oleh seorang pemandu wisata, mereka mengunjungi sebuah desa di Bali dan melihat kehidupan warga di sana, tiba-tiba turis itu mengatakan bahwa dia merasa tidak asing dengan tempat dan kegiatan warga yang ada di desa itu, dia berkata mungkin dikehidupan sebelumnya aku adalah orang Bali dan ditakdirkan untuk kembali lagi ke sini, bahkan dia  menangis sambil mengatakan hal itu kepada pemandu wisatanya tersebut.

Apa kah itu mungkin terjadi? karena menurut kepercayaan Hindu Bali reinkarnasi itu hanya terjadi di lingkaran keluarga saja, berbeda dengan hindu india bahwa reinkarnasi itu tidak sebatas di lingkaran keluarga saja. jadi sekarang apa mungkin turis asing itu pada kehidupan sebelumnya adalah orang Bali? atau hanya perasaannya saja? entah lahh...

Rabu, 23 Mei 2012

di Perbatasan Gianyar [ of Gianyar border ]



Gambar di atas saya dapatkan secara tidak sengaja, saya lupa kapan jelasnya tpi waktu itu saya sedang pulang kampung, maklum saya tinggal di Denpasar dan kampung saya ada di kabupaten kelungkung desa Gunaksa. saat saya sedang menuju kelungkung di pagi hari tepatnya di jalan bay pass Ida Bagus Mantra perbatasan perbatasan kabupaten gianyar dan kelungkung, kami sekeluarga melihat adanya alat berat dan beberapa pekerja yang sedang sibuk mengatur kendaraan yang lewat agar berhati-hati. singkat cerita sepulangnya kami akan ke Denpasar di sore hari tiba-tiba ada antrean kemacetan yang menghalangi laju mobil kami sekeluarga, ternyata saat itu adalah detik-detik tugu perbatasan kabupaten gianyar ini akan dipindahkan, perlahan tapi pasti alat berat itu berhasil mengangkatnya, senang rasanya saya bisa menyaksikan kejadian langka seperti ini. hampir saja saya lupa untuk mengabadikannya dengan kamera handphone saya. cukup banyak gambar yang saya ambil, tapi hanya satu ini saja yang hasilnya bagus, itu karena arah pengambilan saya melawan matahari, jadi hasilnya agak gelap untung saja setelah mobil kami mergerak membelakangi matahari saya segera melakukan jepretan terakhir dan berhasil mendapatkan foto tanpa latar belakang yang gelap.

Senin, 21 Mei 2012

[ before and after ] Sebuah patung di Denpasar

coba bandingkan! 70 tahun bisa merubah segalanya
Sekarang kita akan membahas salah satu patung yang ada di  jalan Diponegoro kota Denpasar. patung ini terletak di sebuah pertigaan jalan, pusat kota. awal mula saya ingin membahas patung ini adalah ketika saya sedang Browsing di internet secara tidak sengaja saya sampai ke sebuah akun Facebook yang memang menampilkan foto-foto kehidupan masyarakat Bali berkisar pada tahun 1800 hingga 1900an. banyak foto yang sebenarnya menarik tpi ada salah satu foto yang saya tau lokasinya sekarang ada di mana, memang tidak banyak tetapi kebetulan ada satu yang berada di kawasan kota Denpasar tempat saya tinggal.

Letak patung yang berada di pusat kota Denpasar
Pertigaan jalan Diponegoro


Awalnya saya kira patung ini adalah patung catur muka yang berada di perempatan jalan veteran, tidak jauh juga dari patung ini. tapi setelah saya perhatikan lebih seksama ternyata gambar patung di foto itu bukanlah catur muka yang ada di jalan veteran, tetapi sebuah patung yang ada di pertigaan jalan Dieponegoro. di akun Facebook itu tertulis foto itu dibuat pada tahun 1930, berarti pada saat itu Bali masih dalam masa penjajahan Jepang. tetapi foto ini tidak diambil oleh orang jepang melainkan seseorang yang ber-kewarganegaraan belanda.

Lihatlah latar belakang foto pada tahun 1930 tersebut! terlihat masih banyak pohon kelapa dan rimbunnya pohon beringin, serta sebuah gubuk kecil didalam sebuah tembok penyengker. patung itu dikelilingi tiga patung kecil lainnya, sepintas seperti sebuah sudut jalan dipedesaan. tapi siapa sangka 70 tahun kemudian sudut jalan yang terlihat sederhana dan terkesan desa itu berubah menjadi tempat yang sungguh-sungguh berbeda lihat saja latar belakangnya! tidak ada lagi pohon kelapa dan teduhnya beringin, semua itu digantikan oleh tembok motel dan pertokoan serta jalan yang selalu ramai dilalui kendaraan bahkan di jam-jam tertentu, pertigaan ini menjadi pusat kemacetan. patungnya pun sudah diganti, patung yang lama katanya dipindahkan entah kemana, dan diganti dengan patung yang sama tapi dengan ukuran yang lebih kecil tetapi masih di kelilingi tiga patung keci.

Sekarang coba bayangkan seandainya dipertigaan jalan ini sejak awal tidak didirikan sebuah patung? bayangkan apakah kalian masih bisa ingat bahwa sebenarnya ini adalah sebuah sudut jalan dan pertigaan yang sama sekitar 70 tahun sebelumnya? mungkin jawabannya tidak, ingin rasanya bisa kembali ketempat itu pada tahun 1930 merasakan jalan yang masih bernuansa pedesaan. tidak seperti sekarang ini, mungkin saja mereka tidak menyadari keberadaannya setiap kali melewati jalan ini, karena semuanya sudah berubah dan tidak seindah dulu.

Minggu, 13 Mei 2012

Tidak ada istilah Open 24 Hours di Bali

Sekarang sudah banyak bertebaran yang namanya fasilitas buka 24 jam atau bahasa inggris-nya Open 24 Hours. tempat-tempat yang biasanya buka 24 jam adalah rumah sakit, kantor polisi, dinas pemadam kebakaran dan fasilitas-fasilitas fital lain-nya, ada juga brand luar negri yang membuka cabangnya di Bali seperti McDonald's, Circel K, Mini Mart, KFC tidak ketinggalan pula brand lokal seperti Alfa Midi, Alfa Expres, Indo Mart dan masih banyak lagi. belakangan ini juga ada SPBU yang tetap buka 24 jam untuk melayani orang-orang yang membutuhkan semua jasa tadi seperti makan, membeli cemilan, kehabisan bensin hingga hal-hal yang darurat sekalipun di tengah malam.

Tetapi semua hal itu tidak berlaku di Bali ketika umat Hindu akan merayakan tahun baru caka, tahun barunya umat Hindu dimana dalam satu hari pulau Bali ini mati total bahkan untuk sekelas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sekalipun ditutup selama sehari penuh, pelabuhan padang bay dan gilimanuk pun tidak ketinggalan untuk berhenti beroprasi. Hal ini akan kita rasakan ketika satu hari sebelum hari raya nyepi dilaksanakan, yaitu saat pengerupukan dimana ogoh-ogoh diarak keliling desa adat di seluruh pelosok bali. disaat itu lah fasilitas-fasilitas yang biasanya dibuka 24 jam akan bersiap untuk ditutup sementara. ini dia beberapa foto yang saya ambil sendiri di kawasan Sanur, salah satu daerah tujuan pariwisata yang ada di kota Denpasar karena keindahan pantai-nya Selain pantai kuta dll.

Tiang McDonald's yang menjulang tinggi beserta benderanya
Mesin ATM pun yang bertuliskan 24 Hour Banking harus tak ber-oprasi juga

Kondisi di dalam McDonald's

McDonald's mulai tidak beroprasi